Uniknya Cita Rasa Bugis-Mandar dari Pulau Masalembu di Panggung Madura Night Vaganza

Stan Pameran Kecamatan Masalembu di Madura Night Vaganza, stadion A.Yani Panglegur Sumenep. (Foto: Istimewa)

maduraindepth.com – Gelaran Madura Culture Fest 2026 yang mengangkat tema wisata desa dan kepulauan, menjadi momentum istimewa bagi Kecamatan Masalembu. Dalam ajang bagian dari Madura Night Vaganza ini, wilayah kepulauan tersebut berkesempatan memamerkan pesona kulinernya yang selama ini jarang diketahui publik.

Masalembu sendiri dikenal sebagai salah satu pulau terluar di sisi utara Kabupaten Sumenep. Jarak tempuhnya yang memakan waktu 12 hingga 13 jam menggunakan kapal perintis membuat pulau ini jarang terjamah wisatawan. Padahal, Masalembu menyimpan potensi alam dan keunikan budaya yang luar biasa. Melalui pameran ini, pesona pulau tersebut seolah dibawa lebih dekat menjadi miniatur destinasi wisata di pusat kota.

“Pada kesempatan ini, kami memamerkan berbagai produk UMKM, terutama kuliner khas dari Masalembu,” ungkap Camat Masalembu, Achmad Auzai Rahman, saat ditemui di stan pamerannya, Rabu (26/8/2026) malam.

Deretan sajian lokal tersebut diperkenalkan langsung oleh ibu-ibu pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kecamatan. Salah satu kuliner unik yang mencuri perhatian adalah Barongko.

“Kudapan ini namanya Barongko, bahan dasarnya dari pisang lokal dan disajikan dalam bungkusan daun pisang,” jelas Wartatik, istri Camat Masalembu.

Selain Barongko, stan Masalembu juga memajang Jajabuk atau abon olahan ikan cakalang kemasan. Ada pula ragam olahan hasil tangkapan laut, camilan lokal, hingga komoditas rempah seperti cengkih.

Baca juga:  Jalin Kebersamaan, Bupati Sumenep Buka Puasa bersama Forkopimda, SKK Migas, KKKS, dan Anak Yatim

Untuk sajian pelepas dahaga, pulau ini memiliki minuman tradisional andalan bernama Sarabba. “Sarabba ini minuman khas kami, kalau di daratan rasanya mirip dengan minuman poka’,” tutur Sekretaris Camat (Sekcam) Masalembu, Ainul Yakin.

Tak ketinggalan, ada jajanan berbahan dasar beras yang disebut Buras. Menurut penuturan Erlyda MS, istri Sekcam Masalembu, Buras memiliki kemiripan dengan penganan Kamboya.

Bagi sebagian besar masyarakat Madura, deretan nama makanan dan minuman tersebut mungkin terdengar asing. Namun, hal ini menjadi wajar jika melihat akar budaya di kepulauan tersebut. Ragam kuliner Masalembu memiliki kedekatan identitas dengan kuliner khas suku Bugis di Sulawesi.

Sejarah demografi mencatat, banyak penduduk Masalembu yang merupakan keturunan suku Bugis dan Mandar. Pengaruh budaya ini sangat kental, bahkan Mandar diabadikan menjadi nama salah satu perkampungan di Desa Sukajeruk, Kecamatan Masalembu. (Arif Coolbreak/MID)

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *