maduraindepth.com – Di tengah ketidakpastian harga pasar, Arifin, warga Desa Sreseh, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang, tetap bertahan mengembangkan usaha ternak puyuh yang dirintisnya sejak 2025.
Usaha yang dijalankan secara mandiri itu membutuhkan modal yang tidak sedikit. Arifin mengaku menggelontorkan dana sekitar Rp120 juta untuk pembangunan kandang dan Rp100 juta untuk pembelian bibit puyuh. Sementara biaya pakan mencapai Rp70 juta untuk kebutuhan selama 45 hari.
“Semua saya kerjakan sendiri, tanpa pekerja,” ujarnya.
Menurut Arifin, usaha ternak puyuh sebenarnya cukup menjanjikan apabila harga telur berada pada kondisi normal. Dengan harga stabil di kisaran Rp27 ribu hingga Rp28 ribu per kilogram, modal usaha dapat kembali dalam waktu sekitar enam bulan.
Namun, kondisi saat ini jauh dari harapan. Harga telur puyuh hanya berkisar Rp20 ribu per kilogram. Padahal, setiap hari Arifin mampu menghasilkan sekitar 86 kilogram telur dari 10 ribu ekor puyuh yang dipeliharanya.
“Produksi itu masih belum maksimal. Kalau kondisi bagus, bisa mencapai 100 sampai 110 kilogram per hari,” katanya.
Selain harga yang fluktuatif, tantangan lain yang dihadapi adalah pemasaran. Ketiadaan pengepul di wilayah Sreseh memaksanya memasarkan sendiri hasil produksinya ke Kecamatan Sampang, Torjun, hingga Kabupaten Pamekasan.
Arifin juga menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum memberikan dampak terhadap peningkatan penjualan telur puyuh. Pasalnya, program tersebut membutuhkan telur puyuh yang sudah dikupas, sementara ia belum memiliki alat pengupas telur.
Meski demikian, semangatnya untuk bertahan tidak surut. Dari tiga peternakan puyuh yang ada di Kecamatan Sreseh, hanya usaha miliknya yang dikelola secara mandiri, sedangkan dua lainnya berada di bawah naungan BUMDes.
Ketekunan Arifin menjadi bukti bahwa usaha peternakan rakyat tetap memiliki peluang berkembang, asalkan mendapat dukungan pasar dan perhatian dari pemerintah untuk memperkuat rantai pemasaran produk lokal.(Poer/MH)








