maduraindepth.com — Aktivitas jasa tambatan perahu di jalur penghubung Kecamatan Sreseh dan Pangarengan kian lesu. Warga yang menggantungkan hidup dari jasa angkut penumpang mengaku pendapatan mereka tidak menentu, bahkan kerap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ahmad, salah satu penyedia jasa perahu, mengungkapkan bahwa penghasilan hanya meningkat pada momen tertentu, seperti menjelang Lebaran atau saat musim hajatan. Di luar itu, jumlah penumpang sangat minim.
“Kadang sehari hanya dapat satu penumpang. Tidak sebanding dengan biaya operasional yang kami keluarkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat para pelaku jasa perahu berada dalam tekanan ekonomi. Dalam situasi sepi, mereka tetap harus memikirkan kebutuhan keluarga di rumah.
Hal serupa disampaikan Saniri, warga lainnya yang juga mengandalkan jasa tambatan perahu. Ia berharap pemerintah daerah memberi perhatian lebih terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat kecil di wilayah tersebut.
“Kami hanya ingin ada perhatian. Ini satu-satunya mata pencaharian kami,” katanya.
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Transportasi Laut Dinas Perhubungan Kabupaten Sampang, Iwan Heri Susanto, membenarkan bahwa dermaga tambatan Sreseh–Pangarengan masih menjadi tanggung jawab pihaknya. Namun, ia menilai kondisi dermaga di sisi Pangarengan belum layak digunakan secara optimal.
“Lokasinya sempit dan akses jalannya kurang memadai. Ini menjadi kendala utama dalam pengembangan,” jelasnya.
Ia juga menyebut, hingga saat ini belum ada kontribusi signifikan dari aktivitas tersebut terhadap pendapatan daerah. Hal itu menjadi salah satu pertimbangan dalam penempatan petugas maupun pengelolaan fasilitas.
Meski demikian, pihaknya memastikan tetap membuka ruang terhadap kritik dan masukan dari masyarakat. Pemerintah, kata dia, akan mempertimbangkan berbagai aspek untuk mendorong perbaikan layanan transportasi sungai di wilayah tersebut.(Poer/MH)














