Hari Batik Nasional, Pasar Lesu Bikin Batik Sampang Makin Tertekan

Pemilik Galery Batik Shalempang, Imron (kiri), bersama budayawan Aba Daiman saat ditemui di galeri setempat, Jumat (2/10/2026). Pelaku usaha berharap pemerintah bantu membuka akses pasar agar batik lokal tidak punah. (Foto: Poer/MID)

maduraindepth.com — Di tengah peringatan Hari Batik Nasional, 2 Oktober, industri batik di Kabupaten Sampang justru menghadapi persoalan serius di sisi pasar. Produk yang telah diproduksi pembatik tidak selalu terserap, sementara sejumlah usaha batik disebut mulai berhenti beroperasi.

Gambaran lesunya pasar tersebut terlihat dari kondisi Galery Batik Shalempang di Jalan Jaksa Agung Suprapto, sebelah barat SPBU Sampang. Pemiliknya, Imron, mengaku galerinya sudah beberapa bulan terakhir tutup. Saat ditemui, Jumat (2/10/2026), galeri tersebut sedang buka.

Menurut Imron, kondisi serupa juga dialami sejumlah pelaku usaha batik lainnya. Bahkan, beberapa tempat usaha batik disebutnya telah berhenti beroperasi.

“Kasihan para pembatik yang sudah memproduksi banyak tetapi tidak laku. Pembatik kami juga terdampak,” ujar Imron.

Ia menilai persoalan pemasaran menjadi salah satu tantangan utama. Di Sampang, menurutnya, jumlah pedagang batik lebih banyak dibandingkan pembuatnya. Sementara konsumen lokal dinilai semakin mempertimbangkan harga sehingga produk batik dengan harga yang lebih murah kerap menjadi pilihan.

Kondisi itu, kata Imron, membuat pemulihan usaha batik pasca  pandemi Covid-19 berjalan sulit. Karena itu, ia berharap pemerintah ikut membuka pasar bagi pembatik lokal, salah satunya dengan mendorong instansi pemerintahan menggunakan batik tulis produksi Sampang sebagai pakaian atau seragam.

Menurut Imron, saat ini pemerintah melalui bidang terkait masih melakukan komunikasi dan kunjungan kepada pelaku usaha, termasuk perhatian terhadap pengembangan dan aspek lingkungan. Namun, ia menilai dukungan tersebut belum cukup untuk mengangkat kembali kondisi pasar batik.

Baca juga:  Batik Tulis Pamekasan Jadi Souvenir Ajang Miss Universe 2021 di Amerika Serikat

Di sisi lain, Imron menyebut persoalan regenerasi pembatik menjadi salah satu persoalan yang paling mengkhawatirkan. Menurutnya, pelatihan yang pernah dilakukan bersama Balai Latihan Kerja (BLK) mampu melahirkan tenaga baru. Namun, kesempatan pelatihan seperti itu kini semakin terbatas.

“Saya khawatir, tidak lama lagi batik akan punah di Sampang kalau regenerasi seperti ini terus berkurang,” katanya.

Sementara itu, Disnaker Sampang melalui Kabid Pelatihan dan Hubungan Industrial Ervien Budi Jatmiko mengakui keterbatasan anggaran menjadi kendala pelaksanaan pelatihan pembatik. Pelatihan kemudian diprioritaskan pada bidang kejuruan dengan jumlah peminat yang lebih banyak.

Di tengah kondisi tersebut, owner Odheng Trunojoyo sekaligus budayawan Sampang, Aba Daiman, mengingatkan bahwa batik memiliki nilai lebih dari sekadar busana.

“Bagi saya, batik itu adalah pusaka. Setiap batik punya ciri khas dan yoni tersendiri bagi pemegangnya,” ujarnya.

Aba Daiman berharap generasi muda tidak sekadar memakai batik, tetapi memahami nilai budaya yang diwariskan leluhur.

“Moga-moga di Hari Batik, generasi muda bisa lebih mengerti tentang makna batik dari para leluhur kita,” pungkasnya.(Poer/MID)

 

 

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *