Tak Bisa Mendengar, Bukan Berarti Tak Bisa Mengaji, Teman Tuli Sampang Belajar Al-Qur’an dengan Bahasa Isyarat

Para peserta Teman Tuli saat mengikuti kegiatan "Ayo Mengaji Isyarat Bersama" di Kabupaten Sampang, Minggu (27/9/2026). Keterbatasan pendengaran tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus belajar dan memahami Al-Qur'an.(Foto:Poer/MID)

maduraindepth.com – Keterbatasan pendengaran dan kemampuan berbicara tidak menjadi penghalang bagi teman-teman Tuli di Kabupaten Sampang, Madura, untuk belajar dan memahami Al-Qur’an.

Semangat itu terlihat dalam kegiatan “Ayo Mengaji Isyarat Bersama” yang digelar Rumah Quran Sahabat Tuli (RQST) Nurul Isyarah pada Minggu, 27 September 2026. Kegiatan berlangsung mulai pukul 12.00 WIB hingga selesai Asar di  ACA Catering, Jalan Panglima Sudirman Gang III Nomor 35.

RQST Nurul Isyarah merupakan wadah pembelajaran yang berada di bawah naungan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN).

Mochtar, selaku Guru Bahasa Isyarat (GBI), mengatakan kegiatan mengaji tersebut digelar rutin setiap pekan. Para peserta belajar mengenal huruf hijaiyah hingga membaca dan memahami Al-Qur’an menggunakan bahasa isyarat.

“Walaupun tidak bisa bicara dan tidak bisa mendengar, mereka tetap bisa mengaji,” ujar Mochtar.

Menurut Mochtar, kegiatan tersebut bukan sekadar pembelajaran agama. Pertemuan rutin menjadi ruang bagi teman-teman Tuli untuk berkumpul, berkomunikasi, menambah kosakata bahasa isyarat sekaligus membangun rasa percaya diri.

Selain mengaji, Mochtar juga mengajarkan dasar-dasar hukum Islam, mulai wajib, haram, sunnah, mubah hingga makruh. Materi selanjutnya akan dikembangkan pada tata cara salat, wudhu, hal-hal yang membatalkan salat serta akhlak.

Saat ini sekitar 40 teman Tuli tercatat aktif mengikuti kegiatan dan pelatihan. Namun, peserta yang hadir dalam pengajian biasanya sekitar 20 hingga 25 orang karena sebagian terkendala jarak.

Baca juga:  Jelang Ramadan, Bupati Sumenep Sidak Pasar Anom, Cek Harga dan Stok Sembako

Di balik semangat tersebut, masih terdapat kebutuhan tempat belajar permanen. Selama ini kegiatan masih berpindah-pindah lokasi.

Mochtar berharap kepedulian masyarakat, donatur, dermawan dan relawan dapat membantu menyediakan tempat yang lebih tetap sehingga proses belajar bisa berlangsung lebih mudah dan berkelanjutan.

Bagi para peserta, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar. Ketika suara tak terdengar, tangan menjadi bahasa. Melalui bahasa isyarat, mereka menemukan cara sendiri untuk mengenal, membaca dan mendekat kepada Al-Qur’an.(Poer/MID)

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *